Thursday, 8 January 2026

Sistem Penjaminan Mutu Internal SPMI di sekolah

 Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) sekolah adalah upaya sistematis dan berkelanjutan yang dilakukan seluruh warga sekolah untuk menjamin dan meningkatkan mutu pendidikan sesuai Standar Nasional Pendidikan (SNP), melalui siklus Penetapan Standar, Pemetaan Mutu, Perencanaan Peningkatan, Pelaksanaan, Monitoring & Evaluasi, hingga Penetapan Standar Baru untuk mencapai keunggulan mutu pendidikan secara mandiri dan berkesinambungan. SPMI melibatkan seluruh elemen sekolah (kepala sekolah, guru, staf, komite) untuk menciptakan budaya mutu yang proaktif

.
 
Komponen Utama SPMI
  1. Penetapan Standar Mutu: Sekolah menentukan standar mutu internal yang lebih tinggi atau lebih spesifik dari SNP sebagai target.
  2. Pemetaan Mutu: Evaluasi diri (e-Evaluasi) untuk mengidentifikasi kekuatan, kelemahan, dan tantangan berdasarkan SNP dan data (misal: Rapor Pendidikan).
  3. Perencanaan Peningkatan Mutu: Menyusun Rencana Kerja Sekolah (RKS) untuk menindaklanjuti hasil pemetaan.
  4. Pelaksanaan Peningkatan Mutu: Melaksanakan program/kegiatan yang telah direncanakan.
  5. Monitoring dan Evaluasi (Monev): Mengawasi dan menilai efektivitas pelaksanaan peningkatan mutu.
  6. Penetapan Standar Baru dan Strategi: Menetapkan standar baru dan merancang strategi peningkatan mutu selanjutnya, mengulang siklus secara terus-menerus (continuous improvement). 
Tujuan SPMI
  • Memastikan penyelenggaraan pendidikan sesuai SNP.
  • Mendorong perbaikan mutu pendidikan secara terus-menerus (continuous improvement).
  • Menciptakan budaya mutu di seluruh warga sekolah.
  • Meningkatkan relevansi pendidikan sesuai kebutuhan dan perkembangan. 
Pelaku dalam SPMI
  • Kepala Sekolah: Sebagai pemimpin dan penanggung jawab.
  • Guru & Tenaga Kependidikan: Pelaksana utama kegiatan.
  • Komite Sekolah & Stakeholder Lain: Pendukung dan pemberi masukan. 
Dasar Hukum
  • Permendikbud No. 28 Tahun 2016 (untuk Pendidikan Dasar dan Menengah. 


Budaya sekolah dalam Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) adalah komitmen bersama seluruh warga sekolah untuk terus-menerus memperbaiki mutu pendidikan, diwujudkan melalui siklus berkelanjutan (Penetapan Standar, Pemetaan Mutu/Evaluasi Diri, Perencanaan, Pelaksanaan, Monitoring & Evaluasi) berdasarkan Standar Nasional Pendidikan (SNP) sebagai landasan, sehingga tercipta lingkungan sekolah yang fokus pada peningkatan kualitas secara sistematis dan mandiri. SPMI bukan sekadar prosedur, tapi menjadi pilar utama yang menjiwai seluruh kegiatan untuk mencapai visi dan misi sekolah. 
Konsep Inti Budaya Sekolah dalam SPMI:
  • Nilai dan Tradisi: Menciptakan lingkungan yang mendukung perbaikan mutu berkelanjutan, bukan hanya formalitas.
  • Sistem Nilai: Mengutamakan mutu dalam semua aspek, melibatkan komitmen, perbaikan terus-menerus, dan kepuasan pelanggan (peserta didik, orang tua).
  • Kepemimpinan dan Partisipasi: Dukungan kepala sekolah dan keterlibatan aktif guru, staf, dan komite sekolah. 
Siklus SPMI (5 Langkah Utama):
  1. Penetapan Standar Mutu: Sekolah menetapkan standar mutu yang ingin dicapai, mengacu pada SNP.
  2. Pemetaan Mutu (Evaluasi Diri Sekolah): Sekolah mengidentifikasi kekuatan, kelemahan, dan tantangan melalui data (Rapor Pendidikan, Asesmen Nasional, dll.).
  3. Perencanaan Peningkatan Mutu: Menyusun rencana aksi konkret berdasarkan hasil pemetaan.
  4. Pelaksanaan Rencana Mutu: Mengimplementasikan rencana dengan melibatkan seluruh warga sekolah.
  5. Monitoring & Evaluasi: Menilai kemajuan, efektivitas, dan merekomendasikan perbaikan. Siklus ini berulang untuk memastikan perbaikan berkelanjutan dan terbentuknya budaya mutu. 
Hubungan Budaya Sekolah dan SPMI:
  • SPMI adalah mekanisme untuk membangun dan memelihara budaya mutu.
  • Implementasi siklus SPMI yang konsisten akan menjelma menjadi budaya di sekolah, di mana semua orang sadar dan terlibat dalam peningkatan mutu. 
Manfaat:
  • Peningkatan kualitas pembelajaran dan hasil belajar siswa.
  • Peningkatan kinerja sekolah dan akreditasi.
  • Adaptasi terhadap tantangan dan inovasi pendidikan. 

Lima Siklus Penjaminan Mutu

SPMI berjalan melalui lima langkah utama:

  1. Penetapan Standar Mutu, Sekolah menetapkan standar mutu yang ingin dicapai. Misalnya, meningkatkan literasi siswa atau memperkuat budaya disiplin.
  2. Pemetaan Mutu, Sekolah melakukan evaluasi diri: apa kekuatan, kelemahan, dan tantangan? Data diambil dari Rapor Pendidikan, Asesmen Nasional, maupun sumber internal seperti hasil ujian atau absensi.
  3. Perencanaan Peningkatan Mutu, Dari hasil pemetaan, sekolah menyusun rencana. Contoh: jika literasi rendah, maka sekolah bisa membuat program pojok baca, pelatihan guru membaca nyaring, atau lomba literasi.
  4. Pelaksanaan, Rencana dilaksanakan dengan melibatkan seluruh warga sekolah.
  5. Pemantauan dan Evaluasi, Sekolah menilai kembali hasil pelaksanaan: apakah ada kemajuan? Jika belum, apa yang perlu diperbaiki?

Saturday, 27 December 2025

Sistem Penjamin Mutu Internal Sekolah

 sekolah dalam perjalanan menuju budaya mutu.

Strategi Edukasi, Supervisi, dan Fasilitasi

Selain BPMP, ada peran pengawas, dinas pendidikan, dan komunitas belajar. Peran mereka adalah:

  • Edukasi: memberikan sosialisasi dan pemahaman kepada sekolah.
  • Supervisi: memantau, memberi masukan, dan memastikan sekolah bergerak ke arah yang benar.
  • Fasilitasi: menyediakan pelatihan, pendampingan, bahkan dukungan anggaran.

Kolaborasi ini memastikan sekolah tidak berjalan sendiri, tetapi mendapat dukungan ekosistem pendidikan.

Tantangan dan Solusi

Beberapa tantangan dalam implementasi SPMI adalah:

  • Sekolah kecil dan swasta sering kesulitan mengikuti Asesmen Nasional.
  • Kualitas guru belum merata di semua daerah.
  • Keterbatasan anggaran dan sarana.

Namun, ada banyak solusi:

  • Memanfaatkan data Rapor Pendidikan untuk fokus pada perbaikan yang paling mendesak.
  • Memperkuat peran BPMP sebagai pendamping utama sekolah.
  • Mengembangkan budaya refleksi dan inovasi di sekolah.

Penutup

SPMI bukan sekadar dokumen atau laporan. Ia adalah cara berpikir baru: sekolah tidak hanya menunggu penilaian dari luar, tetapi aktif memperbaiki diri dari dalam.

Dengan dukungan BPMP sebagai pengawal mutu pendidikan di daerah, serta kolaborasi antara sekolah, dinas, dan masyarakat, SPMI akan melahirkan budaya mutu: kebiasaan untuk selalu bertanya “apa yang bisa kita perbaiki hari ini?”

Jika ini berjalan konsisten, mutu pendidikan Indonesia akan semakin kokoh. Sekolah menjadi adaptif, guru lebih profesional, dan siswa mendapatkan layanan terbaik. (nia21082025). 



https://bpmpjkt.kemendikdasmen.go.id/sistem-penjaminan-mutu-pendidikan-membangun-budaya-mutu-di-sekolah/

Sunday, 30 November 2025

Terapi vaginosis bakterial

 https://unair.ac.id/efek-suplementasi-lactobacillus-plantarum-is-10506-pada-metronidazol-oral-untuk-terapi-vaginosis-bakterial/



Efek Suplementasi Lactobacillus plantarum IS-10506 pada Metronidazol Oral untuk Terapi Vaginosis Bakterial

 
 
 
Ilustrasi oleh the Top 10

Vaginosis bakterial (VB) adalah gangguan pada vagina dengan gejala keputihan yang berbau tidak enak disertai peningkatan pH vagina, yang terutama menyerang perempuan pada usia reproduktif. VB dapat menyebabkan rasa takut dan malu yang menurunkan kepercayaan diri dan kualitas hidup pasien, meningkatkan risiko terkena infeksi menular seksual seperti gonore dan HIV, serta dapat menyebabkan bayi lahir prematur atau berat badan lahir rendah bila dialami oleh wanita hamil.

Penggantian bakteri normal Lactobacillus spp. oleh bakteri anaerobik dan fakultatif pada vagina berperan penting pada terjadinya VB. Metronidazol oral adalah terapi VB yang direkomendasikan, namun menunjukkan angka kesembuhanyang bervariasi. Oleh karena itu, penelitian dilakukan untuk mencari terapi-terapi alternatif termasuk suplementasi probiotik pada VB.

Telah dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui efek suplementasi oral Lactobacillus plantarum IS-1050 termikroenkapsulasi pada metronidazol oral untuk terapi pasien VB di Unit Rawat Jalan Kulit dan Kelamin, RSUD Dr. Soetomo, Surabaya, Indonesia. Penelitian ini melibatkan 29 pasien wanita dengan VB yang didiagnosis berdasarkan kriteria Amsel dan sistem skoring Nugent. Seluruh pasien mendapatkan terapi metronidazole oral 500mg 2 kali sehari, serta dibagi secara acak ke dalam 2 kelompok yaitu probiotik dan plasebo. Kelompok probiotik mendapatkan suplementasi oral Lactobacillus plantarum IS-1050 termikroenkapsulasi 0,9×109 CFU 2 kali sehari, sedangkan plasebo mendapatkan plasebo oral 2 kali sehari. Kesembuhan didefinisikan dari kriteria Amsel dan skor Nugent 0-3. Metronidazol dihentikan bila kesembuhan tercapai. Probiotik dan plasebo dilanjutkan hingga 4 minggu. Tingkat kesembuhan dan rerata skor Nugent dinilai pada saat awal, akhir minggu ke-1, 2 dan 4.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa rerata skor Nugent pada kelompok probiotik dibandingkan dengan plasebo adalah 8,07 vs. 8,07 pada awal, 5,36 vs 6,20 pada akhir minggu ke-1, 4,07 vs. 4,93 pada akhir minggu ke-2, dan 3,57 vs. 4,33 pada akhir minggu ke-4. Tingkat kesembuhan pada kelompok probiotik dibandingkan dengan plasebo adalah 28,6% vs. 20,0% pada akhir minggu ke-1, 50,0% vs. 33,3% pada akhir minggu ke-2, dan 64,3% vs. 40,0% pada akhir minggu ke-4. Skor Nugent menurun secara signifikan pada kedua kelompok pada akhir minggu ke-1, 2 dan 4. Meskipun tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara kedua kelompok, namun rerata skor Nugent lebih rendah dan tingkat kesembuhan lebih tinggi pada kelompok probiotik daripada kelompok plasebo pada akhir minggu ke-1, 2 dan 4. Penelitian ini tidak menemukan efek samping pada kedua kelompok.

Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa suplementasi probiotik oral Lactobacillus plantarum IS-10506 yang ditambahkan pada metronidazol oral aman serta berpotensi lebih unggul daripada metronidazol oral saja pada terapi VB. Penelitian dengan durasi suplementasi yang lebih lama dan jumlah subjek yang lebih banyak mungkin diperlukan untuk menghasilkan efek yang signifikan dari terapi kombinasi ini terhadap VB.

Penulis: Dr. Afif Nurul Hidayati dr.,Sp.KK(K), FINS-DV, FAADV

Informasi lebih lengkap dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

http://jpad.com.pk/index.php/jpad/article/view/2005/1836

Effect of Lactobacillus plantarum IS-10506 supplementation with oralmetronidazole for the treatment of bacterial vaginosis: A randomized placebo-controlled clinical trial. 



https://unair.ac.id/efek-suplementasi-lactobacillus-plantarum-is-10506-pada-metronidazol-oral-untuk-terapi-vaginosis-bakterial/